Ageboy Blog: http://ageboy.blogspot.com/2012/04/cara-agar-blog-tidak-bisa-di-copy-paste.html#ixzz1rpZPnHvD

SELAMAT DATANG DI FAJAR GO_BLOG"er

Ane hanya orang biasa yang pengen punya gob gob goblog"er untuk hiburan semata,walaupun blognya gak terurus dan Sebelumnya ane minta maaf mungkin ada kemiripan dan kesamaan dalam penulisan blog ini.tapi tujuan penulisan blog ini sama ko untuk menambah pengetahuan,yang dulunya gak tau menjadi tau,semakin tau seseorang,semakin pintar kita,semakin pintar kita,semakin penuh memory otak ,semakin penuh memory otak ,semakin memperbesar kemungkinan rusak otak,dan jika otak udh rusak ???,ya tinggal di buatin peti mati ukuran 3 x 4 berwarna aja ...piss

WARNING !!!!!!!!!

OOOOPSSS SORYY .......COPYY NO......KOMEN YESS...... OOOOPSSS SORYY .......COPYY NO......KOMEN YESS......SEKEDAR NAMPANG----BUTUH FILENYA INBOX Fajar Weiz -----Facebook Only----------tHANK----BUTUH FILENYA INBOX Fajar Weiz -----Facebook Only----------tHANK----BUTUH FILENYA INBOX Fajar Weiz -----Facebook Only----------tHANK----BUTUH FILENYA INBOX Fajar Weiz -----Facebook Only----------tHANK

Sabtu, 12 Maret 2011


PEMBELAJARAN YANG DEMOKRATIS

By M. Syaifudin Zuhro

 PEMBELAJARAN yang demokratis adalah pembelajaran yang di dalamnya terdapat interaksi dua arah antara guru dan siswa. Guru memberikan bahan pembelajaran dengan selalu memberi kesempatan kepada siswa untuk aktif memberikan reaksi, siswa bisa bertanya maupun memberi tanggapan kritis tanpa ada perasaan takut. Bahkan, kalau perlu siswa diperbolehkan menyanggah informasi atau pendapat guru jika memang dia mempunyai informasi atau pendapat yang berbeda. Hasil belajar pada dasarnya merupakan hasil reaksi antara bahan pelajaran, pendapat guru, dan pengalaman siswa sendiri.
 alam pembelajaran, siswa betul-betul sebagai subyek belajar. Bukan sebagai botol kosong yang pasrah untuk diisi dengan berbagai ilmu oleh guru. Saat sekarang, rasanya pembelajaran yang demokratis cukup mendesak untuk diimplementasikan di kelas, setidaknya berdasarkan tiga alasan.
 ertama, kenyataan bahwa guru bukan lagi satu-satunya sumber belajar. Dalam era globalisasi informasi sekarang, tidak bisa dimungkiri, akses terhadap berbagai sumber informasi menjadi begitu luas: televisi, radio, buku, koran, majalah, dan Internet. Saat berada di kelas, siswa telah memiliki seperangkat pengalaman, pengetahuan, dan informasi. Semua ini bisa sesuai dengan bahan pelajaran, bisa juga bertentangan. Pembelajaran yang demokratis memungkinkan terjadinya proses dialog yang berujung pada pencapaian tujuan instruksional yang ditetapkan. Tanpa demokrasi di kelas, guru akan menjadi penguasa tunggal yang tidak dapat diganggu gugat. Siswa terkekang, dan akhirnya potensi kreativitasnya terbunuh.
 edua, kompleksnya kehidupan yang bakal dihadapi siswa setelah lulus. Masa depan menuntut mereka mampu menyesuaikan diri. Prinsip belajar yang relavan adalah belajar bagaimana belajar (learning how to learn). Artinya, di kelas target pembelajaran bukan sekadar penguasaan materi, melainkan siswa harus belajar juga bagaimana belajar (secara mandiri) untuk hal-hal lain. Ini bisa terjadi apabila dalam kegiatan pembelajaran siswa telah dibiasakan untuk berpikir mandiri, berani berpendapat, dan berani bereksperimen.
 etiga, dalam konteks pendidikan demokrasi masyarakat. Sebagai bagian dari anggota masyarakat, siswa hendaknya sejak dini telah dibiasakan bersikap demokratis, bebas berpendapat tetapi tetap dalam rule of game. Ini bisa dimulai di kelas dalam bentuk kegiatan pembelajaran yang menekankan adanya demokrasi. Bagaimana kita bisa berharap kelak mereka akan menjadi penyokong demokratisasi kalau di sekolah tidak mendapatkan pengalaman berdemokrasi?
 ETIGA alasan di atas tampaknya cukup signifikan untuk memberikan rekomendasi tentang perlunya penerapan pembelajaran yang demokratis di kelas. Hanya saja, harus diakui ada beberapa kendala yang perlu diatasi.
 ari pihak guru, kendala lebih bersifat psikologis. Bagaimanapun, selama ini guru telah tercitrakan sebagai orang yang serba tahu dan serba mampu. Bahkan, ada ungkapan, guru itu digugu dan ditiru. Ini menempatkan guru pada posisi superior-di atas siswa. Guru memang harus berwibawa baik secara akademik maupun moral, tapi bukan berarti harus berlaku diktator dan otoriter. Harus ada perubahan paradigma, guru sekarang tidak harus serba tahu dan serba mampu karena hal itu memang mustahil. Yang penting, guru harus bisa menjadi fasilitator dan motivator sehingga siswa dapat mengembangkan potensinya secara optimal. Untuk bisa mengubah paradigma ini, guru harus menyadari bahwa wibawa tidak akan lenyap dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kreativitas. Bukankah justru wibawa guru akan terangkat bila ia mampu menampilkan performa sebagai guru yang egaliter, bisa diajak diskusi, terbuka, dan demokratis.
Sementara dari pihak siswa, kendalanya adalah belum adanya keberanian untuk berpendapat. Selama ini mereka telah terkondisi untuk pasif, menerima apa pun informasi dari guru tanpa kritik. Kondisi ini harus diubah dengan cara mendorong mereka menyampaikan gagasan dan menghargainya. Apa pun pendapat siswa, guru harus bisa memberikan apresiasi secara positif. Melalui penghargaan dan apresiasi secara positif terhadap siswa, diharapkan berangsur-angsur siswa terbiasa berpikir aktif dan berani mengemukakan pendapatnya di kelas.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

komen sangat di harapkan boss.